13.10
WIB – Desa Jengklik, Ngablak, Srumbung.
Siang
itu langit begitu kelabu, hampir pekat. Bukan karena mendung hujan,
namun sisa-sisa abu Merapi yang masih beterbangan di udara. Namun,
warga seperti sudah tak peduli dengan kondisi langit tersebut.
Mereka sudah kembali melakukan berbagai aktifitas, terutama upaya
pembersihan abu vulkanik di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Tim
Diman kali ini sedang mensurvey sebuah wilayah di daerah Muntilan,
tepatnya di sekitar kecamatan Srumbung. Kecamatan Srumbung berada di
sisi barat Gunung Merapi, dan menurut informasi yang kami terima,
daerah ini terkena abu vulkanik yang cukup parah. Awalnya kami tidak
tahu harus kemana, hingga akhirnya kami bertemu Sudirman, salah
seorang keamanan sukarela warga setempat yang menunjukkan kepada kami
bahwa ada sebuah desa yang kondisinya kritis dan membutuhkan bantuan.
Kami langsung meminta Sudirman untuk membantu kami menunjukkan jalan
karena kami akan mensurvey daerah tersebut.
Desa
ini bernama Jengklik, berada kurang lebih 10 kilometer dari Merapi
dan perjalanan menuju desa tersebut kira-kira memakan waktu sekitar
setengah jam dari pusat kota Muntilan. Sepanjang perjalanan, Tim
Diman disuguhi pemandangan kebun salak pondoh yang sudah liar biasa
hancur terkena abu vulkanik. Daun yang seharusnya berwarna hijau,
kini berganti warna abu-abu. Pohon salak yang seharusnya berdiri
tegak pun kini merunduk karena menanggung berat abu vulkanik yang
melanda mereka. Perkebunan ini mati tak ada harapan lagi untuk
menghasilkan buah salak.
Salak
pondoh merupakan sumber perkebunan utama warga setempat. Untuk
menanam pohon salak hingga menghasilkan buah membutuhkan waktu
sekitar 2 tahun. Waktu yang cukup lama, padahal sebagian besar
pemasukan mereka memang bergantung dari perkebunan ini. Bila kondisi
kebun mereka sudah hancur seperti yang kami lihat, apa penopang lain
kehidupan warga desa tersebut?
Setelah
melalui perjalanan yang cukup menanjak, akhirnya kami sampai di desa
Jengklik. Kami memakirkan kendaraan kami di sebuah pos yang terletak
di pintu masuk desa dan sekelompok warga (kurang lebih 15 orang) yang
sedang berkumpul menyambut kedatangan kami. Wajah mereka seperti
kelelahan dan berharap kami membawa sesuatu untuk mereka. Kami
menyapa mereka dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Kami
mengatakan bahwa kami datang dari sebuah yayasan dari Jakarta yang
bernama Dian Mandiri, dan bermaksud untuk mensurvey wilayah-wilayah
terpencil yang membutuhkan bantuan.
Wajah
warga yang begitu suram pun berubah menjadi senyum. Seorang warga
mengatakan bahwa selama ini bantuan sangat sedikit yang sampai ke
desa mereka. Bahkan, mereka terpaksa harus membuat proposal dulu
untuk disampaikan kepada relawan-relawan yang memberikan bantuan.
Padahal, sebagian besar dari mereka masih belum begitu mengerti
bagaimana membuat proposal. “Soalnya, kalau ada relawan yang
datang, mereka cuma sampai di posko bawah saja….mereka nda tahu
kalau masih ada desa di atas sini....”, kata Sudirman menambahkan.
Tim
Diman memutuskan untuk menurunkan beberapa bantuan awal berupa beras,
sarung, pakaian anak, vitamin dan beberapa kardus mie instan. Jumlah
yang kami berikan memang tidak banyak, karena warga desa tersebut pun
masih banyak yang berada di pengungsian. Seorang warga
menambahkan,”…yang kami butuhkan selain makanan adalah alat-alat
pertanian seperti cangkul, sekop, dan juga pupuk….”. Kami memang
hanya memberikan secukupnya untuk beberapa warga yang berkumpul di
pos tersebut dan mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah bantuan
awal kami, selanjutnya kami akan memantau apa yang mereka butuhkan
melalui Sudirman.
Setelah
kami selesai mencatat dan berfoto dengan warga desa, Sudirman pun
mengajak kami untuk melihat bagaimana kritisnya kondisi desa Jengklik
ini. Kami berpikir tadinya kritis yang dimaksud adalah kondisi
perkebunan warga yang sudah hancur. Ternyata tidak hanya itu,
Sudirman mengajak kami melihat tanggul Kali Putih yang jebol terkena
arus lahar dingin. Kami diajak Sudirman lewat jalan terjal di
sepanjang perkebunan salak yang hancur, bahkan kami harus
meninggalkan mobil Diman karena jalan tersebut hanya bisa dilalui
motor saja.
Jarak
dari pos hingga tanggul tersebut kurang lebih 2 kilometer. Kami
melalui jalan berbatu yang sangat terjal, disamping itu pemandangan
kebun salak pondoh yang hancur dan semrawut masih mengiringi
perjalanan kami. Langit yang kelabu, kebun salak yang hancur, serta
jalan berbatu yang terjal menjadi perpaduan yang begitu kelam seperti
menjelaskan betapa menyedihkan kondisi desa ini.
Akhirnya,
kami sampai di lokasi tanggul dan kondisi menyedihkan lagi-lagi
terlihat di pandangan kami. Sebuah bagian tanggul yang hancur terbawa
arus lahar dingin, membagi dataran tanah menjadi dua bagian. Bebatuan
sebesar motor dan mobil pun terpencar di sepanjang sungai. “Ya ini
mas yang bikin desa ini kritis, tanggul Kali Putih sudah hancur
sebagian, sedangkan desa adanya di samping Kali Putih…,” Sudirman
berusaha menjelaskan.
Desa
Jengklik memang berada di samping Kali Putih yang membawa arus lahar
dingin serta materi-materi bebatuan dari letusan Merapi. Kini desa
itu terancam kena banjir lahar dingin yang bisa datang kapan saja,
terutama malam hari. Masalahnya adalah bebatuan besar yang ikut di
dalam arus, karena bila tidak waspada, batu-batu itu dapat menyapu
desa rata bersama warganya.
Sampai
saat kami melihat kondisi mengkhawatirkan ini, belum ada bantuan
apapun dari pemerintah. Warga desa masih gotong royong berusaha
menyelesaikan masalah yang ada secara swadaya. Bahkan, pipa saluran
air seluruh desa yang terputus akibat terpaan banjir lahar dingin pun
dipindahkan secara swadaya oleh warga desa. Kini Merapi memang sudah
tidak meletus, namun permasalahan tidak hanya sampai pada letusan.
Kondisi pasca bencana seperti warga yang kehilangan pekerjaan,
pemulihan kondisi tanggul dan kebun salak yang hancur, serta
psikologi warga yang masih merasa terancam bencana masih akan
dihadapi di kemudian hari. Desa Jengklik sangat membutuhkan uluran
tangan kita yang berada dalam situasi lebih beruntung dari warga desa
ini.
No comments:
Post a Comment