Friday, November 26, 2010

Kritisnya Desa Jengklik


13.10 WIB – Desa Jengklik, Ngablak, Srumbung.

Siang itu langit begitu kelabu, hampir pekat. Bukan karena mendung hujan, namun sisa-sisa abu Merapi yang masih beterbangan di udara. Namun, warga seperti sudah tak peduli dengan kondisi langit tersebut. Mereka sudah kembali melakukan berbagai aktifitas, terutama upaya pembersihan abu vulkanik di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Tim Diman kali ini sedang mensurvey sebuah wilayah di daerah Muntilan, tepatnya di sekitar kecamatan Srumbung. Kecamatan Srumbung berada di sisi barat Gunung Merapi, dan menurut informasi yang kami terima, daerah ini terkena abu vulkanik yang cukup parah. Awalnya kami tidak tahu harus kemana, hingga akhirnya kami bertemu Sudirman, salah seorang keamanan sukarela warga setempat yang menunjukkan kepada kami bahwa ada sebuah desa yang kondisinya kritis dan membutuhkan bantuan. Kami langsung meminta Sudirman untuk membantu kami menunjukkan jalan karena kami akan mensurvey daerah tersebut.
Desa ini bernama Jengklik, berada kurang lebih 10 kilometer dari Merapi dan perjalanan menuju desa tersebut kira-kira memakan waktu sekitar setengah jam dari pusat kota Muntilan. Sepanjang perjalanan, Tim Diman disuguhi pemandangan kebun salak pondoh yang sudah liar biasa hancur terkena abu vulkanik. Daun yang seharusnya berwarna hijau, kini berganti warna abu-abu. Pohon salak yang seharusnya berdiri tegak pun kini merunduk karena menanggung berat abu vulkanik yang melanda mereka. Perkebunan ini mati tak ada harapan lagi untuk menghasilkan buah salak.
Salak pondoh merupakan sumber perkebunan utama warga setempat. Untuk menanam pohon salak hingga menghasilkan buah membutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Waktu yang cukup lama, padahal sebagian besar pemasukan mereka memang bergantung dari perkebunan ini. Bila kondisi kebun mereka sudah hancur seperti yang kami lihat, apa penopang lain kehidupan warga desa tersebut?
Setelah melalui perjalanan yang cukup menanjak, akhirnya kami sampai di desa Jengklik. Kami memakirkan kendaraan kami di sebuah pos yang terletak di pintu masuk desa dan sekelompok warga (kurang lebih 15 orang) yang sedang berkumpul menyambut kedatangan kami. Wajah mereka seperti kelelahan dan berharap kami membawa sesuatu untuk mereka. Kami menyapa mereka dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Kami mengatakan bahwa kami datang dari sebuah yayasan dari Jakarta yang bernama Dian Mandiri, dan bermaksud untuk mensurvey wilayah-wilayah terpencil yang membutuhkan bantuan.
Wajah warga yang begitu suram pun berubah menjadi senyum. Seorang warga mengatakan bahwa selama ini bantuan sangat sedikit yang sampai ke desa mereka. Bahkan, mereka terpaksa harus membuat proposal dulu untuk disampaikan kepada relawan-relawan yang memberikan bantuan. Padahal, sebagian besar dari mereka masih belum begitu mengerti bagaimana membuat proposal. “Soalnya, kalau ada relawan yang datang, mereka cuma sampai di posko bawah saja….mereka nda tahu kalau masih ada desa di atas sini....”, kata Sudirman menambahkan.
Tim Diman memutuskan untuk menurunkan beberapa bantuan awal berupa beras, sarung, pakaian anak, vitamin dan beberapa kardus mie instan. Jumlah yang kami berikan memang tidak banyak, karena warga desa tersebut pun masih banyak yang berada di pengungsian. Seorang warga menambahkan,”…yang kami butuhkan selain makanan adalah alat-alat pertanian seperti cangkul, sekop, dan juga pupuk….”. Kami memang hanya memberikan secukupnya untuk beberapa warga yang berkumpul di pos tersebut dan mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah bantuan awal kami, selanjutnya kami akan memantau apa yang mereka butuhkan melalui Sudirman.
Setelah kami selesai mencatat dan berfoto dengan warga desa, Sudirman pun mengajak kami untuk melihat bagaimana kritisnya kondisi desa Jengklik ini. Kami berpikir tadinya kritis yang dimaksud adalah kondisi perkebunan warga yang sudah hancur. Ternyata tidak hanya itu, Sudirman mengajak kami melihat tanggul Kali Putih yang jebol terkena arus lahar dingin. Kami diajak Sudirman lewat jalan terjal di sepanjang perkebunan salak yang hancur, bahkan kami harus meninggalkan mobil Diman karena jalan tersebut hanya bisa dilalui motor saja.
Jarak dari pos hingga tanggul tersebut kurang lebih 2 kilometer. Kami melalui jalan berbatu yang sangat terjal, disamping itu pemandangan kebun salak pondoh yang hancur dan semrawut masih mengiringi perjalanan kami. Langit yang kelabu, kebun salak yang hancur, serta jalan berbatu yang terjal menjadi perpaduan yang begitu kelam seperti menjelaskan betapa menyedihkan kondisi desa ini.
Akhirnya, kami sampai di lokasi tanggul dan kondisi menyedihkan lagi-lagi terlihat di pandangan kami. Sebuah bagian tanggul yang hancur terbawa arus lahar dingin, membagi dataran tanah menjadi dua bagian. Bebatuan sebesar motor dan mobil pun terpencar di sepanjang sungai. “Ya ini mas yang bikin desa ini kritis, tanggul Kali Putih sudah hancur sebagian, sedangkan desa adanya di samping Kali Putih…,” Sudirman berusaha menjelaskan.
Desa Jengklik memang berada di samping Kali Putih yang membawa arus lahar dingin serta materi-materi bebatuan dari letusan Merapi. Kini desa itu terancam kena banjir lahar dingin yang bisa datang kapan saja, terutama malam hari. Masalahnya adalah bebatuan besar yang ikut di dalam arus, karena bila tidak waspada, batu-batu itu dapat menyapu desa rata bersama warganya.
Sampai saat kami melihat kondisi mengkhawatirkan ini, belum ada bantuan apapun dari pemerintah. Warga desa masih gotong royong berusaha menyelesaikan masalah yang ada secara swadaya. Bahkan, pipa saluran air seluruh desa yang terputus akibat terpaan banjir lahar dingin pun dipindahkan secara swadaya oleh warga desa. Kini Merapi memang sudah tidak meletus, namun permasalahan tidak hanya sampai pada letusan. Kondisi pasca bencana seperti warga yang kehilangan pekerjaan, pemulihan kondisi tanggul dan kebun salak yang hancur, serta psikologi warga yang masih merasa terancam bencana masih akan dihadapi di kemudian hari. Desa Jengklik sangat membutuhkan uluran tangan kita yang berada dalam situasi lebih beruntung dari warga desa ini.

No comments:

Post a Comment