15.30
– Desa Babadan 1, Paten
Cuaca
yang mendung dan angin yang bertiup sejuk mengiringi perjalanan Tim
Diman kali ini. Sawah dan perkebunan tembakau menjadi pemandangan
yang dapat kami nikmati. Mobil APV yang kami tumpangi melaju 60
kilometer per jam di jalan yang menghubungkan Megelang dan Boyolali.
Kami menuju sebuah wilayah di kaki Gunung Merapi dan akan bertemu
dengan seorang informan yang bernama Sugito.
Setelah
kami bertemu dengan Mas Gito, begitu sapaan akrab Sugito, kami
langsung dipandu menuju sebuah desa. Mas Gito menggunakan motor dan
mobil kami mengikutinya dari belakang. Mas Gito memang warga desa
tersebut dan melalui dia, kami diinformasikan bahwa desanya sangat
membutuhkan bantuan. Desa ini bernama Babadan 1 dan berada di wilayah
Paten, dan hanya berjarak 5 kilometer dari Gunung Merapi.
Perjalanan
cukup lama dari lokasi kami bertemu Mas Gito, kurang lebih 1 jam.
Kondisi jalannya pun cukup menantang, karena jalan yang kami lalui
menanjak dan hanya cukup 1 mobil diantara tebing yang begitu curam.
Rasanya sangat lama menuju desa tersebut, bahkan kami harus melewati
3 desa yang berada di bawah Babadan 1. Maklum, kami menuju kaki
Gunung Merapi dengan jarak 5 kilometer dari puncak gunung.
Akhirnya,
kami sampai di desa Babadan 1. Seperti layaknya desa, rumah-rumah
berdinding kayu dan bambu menyambut kami masuk ke desa. Tapi, yang
berbeda adalah warna desa yang abu-abu semua, sampai tanaman pun tak
lagi berdaun hijau melainkan keabuan dan layu semua. Jalan desa yang
menanjak diselimuti lumpur tebal yang mulai mengeras. Tanah di
sekeliling desa pun sudah bercampur abu vulkanik dan mengeras
layaknya tanah baru berwarna kehitaman. Beberapa atap rumah roboh
karena tak lagi mampu menahan berat abu vulkanik yang menempel di
atasnya. Desa ini benar-benar sudah dilanda hujan abu yang begitu
lebat.
Kami
berhenti di rumah kepala desa yang sedang bergotong royong
membersihkan lingkungan bersama beberapa warga pria. Mereka langsung
menyambut kami, dan Mas Gito pun menjelaskan maksud kedatangan Tim
Diman di desa itu. Sang Kepala Desa begitu senang menerima kedatangan
kami, ia menjelaskan bahwa warga desa ini berjumlah kurang lebih 400
orang dan sebagian besar adalah warga lanjut usia. Namun ketika
Merapi meletus, semua warga diungsikan ke wilayah yang aman di daerah
Paten bawah dan saat ini hanya beberapa warga pria saja yang kembali
untuk memberi makan ternak mereka serta membersihkan sisa-sisa abu
vulkanik yang menyelimuti desa tersebut.
Kami
mendapat informasi fakta yang begitu miris ketika bertanya mengenai
bantuan yang pernah diterima. “ Jadi, bantuan itu numpuk di bawah
aja. Mungkin karena desa ini terlalu atas….kadang kalau ada bantuan
yang datang, sama posko di bawah disuruh taruh disana, alasannya
daerah sini masih terlarang untuk dimasuki, padahal sih ya nggak gitu
Mas….”, Mas Gito mencoba menjelaskan diikuti oleh Kepala Desa
yang membenarkan kondisi tersebut. Akibatnya, beberapa warga yang
sudah kembali dari pengungsian tidak dapat bantuan apapun, padahal
mereka sangat membutuhkannya. Selain itu, pertanyaan selanjutnya
adalah kemana bantuan-bantuan yang sudah menumpuk di posko bawah
tersebut disalurkan?
Walaupun
desa Babadan 1 berada di kaki Gunung, ternyata mereka sangat
kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kami melihat banyak
sekali bak penampungan air yang mereka kelola secara swadaya
mengambil sumber air yang letaknya cukup jauh dari desa. Mas Gito
menjelaskan,”Kami memang punya kesulitan buat dapat air bersih,
apalagi sekarang air udah kena abu, jadi makin susah….”. Setelah
Merapi meletus dan desa mereka dilanda abu vulkanik yang begitu
hebat, pasokan air menjadi semakin sulit, bahkan air yang didapat
kini sudah banyak bercampur dengan abu. Kini, untuk mendapatkan air
bersih mereka harus turun dan mengambil air dari desa yang berada
jauh di bawah mereka.
Setelah
beberapa saat berbincang, kami langsung menurunkan sedikit bantuan
yang kami bawa untuk mereka. Beberapa karung beras, obat-obatan, mie
instan dan beberapa sarung. Mereka sangat senang, dan kami pun
meminta mereka untuk selalu memberi laporan kepada kami tentang
kondisi mereka agar kebutuhan mereka selalu terpantau oleh Tim Diman.
Selanjutnya kami mencatat bantuan yang telah diberikan dan berfoto
bersama mereka.
Warga
desa Babadan 1 memang belum semua pulang dari pengungsian, namun
mereka tetap membutuhkan perhatian. Kondisi desa dan infrastruktur
yang memprihatinkan menjadi kendala mereka menghadapi hidup
sehari-hari. Bantuan yang telah menumpuk tidak selamanya dapat
menjamin kehidupan mereka selanjutnya. Warga desa Babadan 1 butuh
uluran tangan yang dapat menopang mereka memperbaiki kehidupan desa
mereka. Dian Mandiri ada untuk mereka, kami akan selalu memantau
kondisi mereka dan apapun yang mereka butuhkan. Kini, tiba waktu kami
untuk beranjak dari desa tersebut, pesan dan bantuan telah
disampaikan secara langsung, selanjutnya kabut dan abu yang bercampur
mengiringi perjalanan pulang kami, Tim Yayasan Dian Mandiri.
No comments:
Post a Comment